Editor

Berada dalam Dunia

KHOTBAH MINGGU GPIB 12 APRIL 2026 - 2 Petrus 1:3-7(Pdt. Ebenhaezer Nuban Timo)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Kita memulai perenungan hari ini dengan mengingat satu pernyataan Yesus yang sangat terkenal dalam Injil Yohanes: “Mereka ada di dalam dunia, tetapi mereka bukan dari dunia.” Gereja yang dimaksud Yesus ini, bukan hanya ke-12 murid di masa pelayanannya di dunia. Mereka yang Yesus maksudkan adalah Gereja, umat bernama ekklesia: yang dipanggil keluarga dari Dunia dan kembali diutus ke dalam dunia. “In the world but not from the world.” Itulah gereja.

Pernyataan ini bukan sekadar kalimat indah, tetapi sebuah ketegangan eksistensial yang harus dihidupi oleh setiap orang percaya. Identitas sebagai Gereja terlihat dalam kehadiran, sepak terjangnya, kehidupan dan karya baktinya di dalam Dunia. 

Dalam teologi Injil Yohanes, “dunia” bukan hanya menunjuk pada bumi atau tempat tinggal manusia. Dunia adalah sebuah sistem nilai — cara hidup, cara berpikir, dan cara bertindak — yang berseberangan dengan kehendak Allah. Dunia adalah realitas di mana manusia cenderung mengutamakan diri sendiri, mengejar kuasa, menghalalkan segala cara, dan menyingkirkan kebenaran demi kenyamanan.

Dunia adalah sebuah masyarakat yang mendeklarasikan permusuhan terhadap Injil, yang menolak berita tentang kebangkitan dan perjuangan kepada kemanusiaan baru. Toh begitu, Yesus tidak pernah meminta murid-murid-Nya untuk keluar dari dunia. Ia tidak berdoa agar mereka diangkat dari dunia, melainkan agar mereka dipelihara di dalam dunia. Artinya, panggilan orang percaya bukanlah melarikan diri, tetapi hadir — dengan identitas yang berbeda.

Di sinilah kita perlu bertanya: bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen terhadap dunia? Setidaknya ada tiga sikap yang sering muncul. Pertama, sikap antitesis yang ekstrem: menjauhi bahkan memusuhi dunia.

Sikap ini melihat dunia sebagai sesuatu yang sepenuhnya jahat, sehingga harus dihindari. Dalam sejarah, kita melihat sikap ini pada kelompok Farisi yang membangun tembok pemisah antara “yang suci” dan “yang duniawi.” Dalam konteks masa kini, sikap serupa dapat muncul dalam bentuk kesalehan yang eksklusif—misalnya komunitas iman yang hanya sibuk dengan kegiatan rohani, tetapi tidak mau terlibat dalam persoalan sosial.

Orang Kristen dengan sikap ini mungkin rajin beribadah, aktif dalam persekutuan doa, tetapi tidak peduli pada ketidakadilan, kemiskinan, atau kerusakan moral di sekitarnya. Dunia dianggap kotor, sehingga lebih aman menjaga jarak. Mereka menaikan doa dengan kata-kata yang indah, misalnya supaya Allah mengaruniakan Indonesia generasi yang cerdas berkepribadian terpuji, tetapi lebih mementingkan makanan gratis ketimbang pendidikan yang berkualitas.

Lalu siapa yang harus menghadirkan generasi yang cerdas? Memangnya doa adalah memberikan kertas disposisi kerja kepada Allah? Gereja seperti ini hadir dalam Dunia hanya sebagai touris, mau berkatnya tetapi lalai melakukan tanggung jawabnya.

Sikap Kristen kedua adalah kompromis dan oportunis. Sikap lebih halus, tetapi juga sangat berbahaya. Seseorang tampak religius dalam situasi tertentu, tetapi mudah menyesuaikan diri dengan nilai dunia ketika ada keuntungan atau kenyamanan yang ditawarkan.

Sikap ini sangat nyata. Misalnya: Seorang profesional yang jujur di gereja, tetapi ikut praktik manipulasi laporan keuangan di kantor demi promosi jabatan. Pebisnis yang memberi persembahan besar, tetapi tidak segan menyuap demi memenangkan tender. Aparatur yang berbicara tentang integritas, tetapi diam ketika melihat ketidakadilan karena takut kehilangan posisi.

Sikap ini menghadirkan kekristenan bunglon dalam Dunia. Etika menjadi sesuatu yang situasional—dipakai ketika menguntungkan, ditanggalkan ketika menyulitkan. Dunia tidak lagi dilawan, tetapi dinegosiasikan. Orang Kristen menjadi seperti sekam yang ditiup angin.

Ketiga, sikap hidup transformatif. Inilah sikap yang seharusnya menjadi panggilan kita. Sikap ini berangkat dari keyakinan bahwa kuasa kebangkitan Kristus tidak hanya berlaku di ruang ibadah, tetapi di seluruh aspek kehidupan.

Dalam sikap transformatif, dunia tidak ditolak, tidak juga diikuti begitu saja — melainkan ditransformasi. Orang Kristen hadir dalam dunia untuk menjadi agen transformasi.  Dalam sikap ini, orang percaya menjadi seperti lebah, mengubah nektar menjadi madu dalam semangat bekerja sama di bawah komando sang pemimpin, yakni Yesus.

Orang Kristen membaharui sistem ekonomi untuk menghadirkan keadilan, mentransformasi dunia pendidikan untuk membentuk karakter,
Menghadirkan erika di ranah politik untuk memperjuangkan kebenaran, menjadikan sektor hukum untuk menegakkan keadilan, dan menjadikan platform digital untuk menyebarkan kebaikan dan kebenaran.

Inilah yang dimaksud Yesus ketika Ia berkata bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Garam bukan pertama-tama memberi rasa, tetapi mencegah pembusukan. Dunia yang cenderung rusak membutuhkan kehadiran orang percaya yang menjaga nilai-nilai kehidupan tetap sehat. Terang bukan sekadar menghiasi, tetapi memberi arah dalam kegelapan. Dunia yang penuh kebingungan moral membutuhkan orang percaya yang menunjukkan jalan.

Saudara-saudari. Dalam perspektif ini, Mari kita  masuk ke dalam teks kita hari ini, 2 Petrus 1:3-7. Rasul Petrus menegaskan bahwa kita telah dianugerahi kuasa ilahi untuk hidup dalam kesalehan. Tetapi hidup itu tidak terjadi secara otomatis. Ada sebuah proses bertingkat—sebuah perjalanan iman tujuh nilai. Petrus berkata: kepada iman harus ditambahkan: kebaikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, dan kasih.

Ini menunjukkan bahwa iman bukanlah sesuatu yang statis. Iman bukan sekadar pengakuan di bibir. Iman adalah sebuah habitus hidup—sebuah tindakan yang terus-menerus diwujudkan. Mari kita lihat satu per satu dalam konteks kehidupan kota seperti Jakarta.

Pertama, iman yang ditambahkan kebaikan. Kebaikan adalah tindakan nyata yang membawa manfaat bagi orang lain. Di tengah kehidupan kota yang individualistis, kebaikan bisa hadir dalam hal sederhana: membantu rekan kerja tanpa pamrih, memperlakukan pekerja dengan adil, atau peduli pada tetangga yang mengalami kesulitan. Orang Kristen dipanggil untuk menghadirkan kebaikan yang tidak bersyarat—kebaikan yang mencerminkan kasih Allah.

Kedua, pengetahuan. Kebaikan perlu ditambahkan dengan pengetahuan supaya tidak menjadi tindakan emosional. Pengetahuam di sini bukan sekadar informasi, tetapi pemahaman yang benar tentang kehendak Allah dan kondisi masyarakat. Memberi makanan gratis adalah kebaikan, tetapi kalau tidak disertasi pengenalan akan kondisi masyarakat, bisa salah sasaran. Dalam dunia yang penuh hoaks dan disinformasi, orang percaya dipanggil untuk berpikir kritis, bijak, dan bertanggung jawab. Di ruang digital, ini berarti tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, tidak ikut dalam ujaran kebencian, dan berani menyuarakan kebenaran.

Ketiga, penguasaan diri. Kebaikan dan pengetahuan harus dikendalikan agar tidak menjadi alat politik atau pemaksaan kehendak secara halus. Di kota besar, godaan begitu banyak: konsumtivisme, gaya hidup hedonis, ambisi yang tidak terkendali. Penguasaan diri menjadi tanda bahwa kita tidak dikuasai oleh keinginan, tetapi oleh Roh Allah. Itu nampak misalnya dalam sikap menolak praktik korupsi meskipun ada peluang, mengendalikan emosi di tengah tekanan kerja, atau bijak dalam penggunaan media sosial.

Keempat, orang percaya yang cerdas dan menguasai diri perlu membangun ketekunan. Maksudnya menjaga daya juang dan terus memperkuat kemampuan untuk tetap setia di tengah kesulitan. Banyak orang memulai dengan baik, tetapi menyerah ketika menghadapi tekanan. Orang percaya dipanggil untuk tetap setia dalam integritas, bahkan ketika itu berarti kehilangan peluang atau kenyamanan.

Kelima, kesalehan. Kesalehan bukan sekadar ritual, tetapi relasi yang hidup dengan Allah. Dari relasi inilah lahir kekuatan untuk hidup benar. Kesalehan membuat kita tidak hanya sibuk bekerja, aktif mengikuti ibadah serta giat dalam merenungkan firman Allah, tetapi juga memiliki kepekaan rohani—mendengar suara Tuhan di tengah hiruk-pikuk kota.

Keenam, kasih. Inilah puncaknya. Kasih adalah tanda utama kehidupan baru. Kasih yang melampaui batas suku, agama, status sosial, dan kepentingan pribadi. Kasih membuat kita tidak hanya peduli pada diri sendiri, tetapi juga pada keadilan sosial, pada mereka yang lemah, pada mereka yang tersisih.

Saudara-saudari, jika iman kita bertumbuh melalui proses ini, maka kita tidak akan menjadi penonton di dunia. Kita juga tidak akan hanyut dalam arus dunia. Kita akan menjadi penentu arah. Menurut pengajaran Yesus, kita berada dalam Dunia sebagai Garam dan Terang. Nieburgh menyebutkan kehidupan Kristen sebagai Garam dan Terang dengan frasa: moral man in the immoral society.

Dunia kerja dipenuhi orang-orang berintegritas, Dunia bisnis dijalankan dengan keadilan, Dunia politik diwarnai keberanian moral, Dunia digital dipenuhi suara kebenaran dan kasih. Maka Jakarta—bahkan Indonesia—tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga mengalami pembaruan moral dan spiritual. Kita mungkin tidak bisa hadir sebagai pelita, tetapi bisa sebagai mercusuar. Inilah makna “berada dalam dunia.” Kita hadir bukan untuk menyesuaikan diri, tetapi untuk menghadirkan kehidupan baru yang berasal dari Kristus yang bangkit.

Akhirnya, Saudara-saudari, Iman kita bukan kata benda yang mati. Iman adalah kata kerja. Ia hidup, bergerak, bertumbuh, dan berdampak. Tuhan yang Bangkit siap menolong kita. Dia menjanjikan Roh Kudus yang bekerja bersama Dan melalui hidup kita, agar dunia dapat melihat bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi realitas yang sedang mengubah dunia hari ini.

Amin.

Nota Bene:

Bagi teman-teman yang tergerak untuk membantu pelayanan BPH GEREJA PROTESTAN INDONESIA 2025-2030 bisa memberikan persembahan sukarela seiklasnya berapapun nominalnya ke Q-Ris GPI pada link berikut: