ALLAH YANG SETIA DI TENGAH PEMBERONTAKAN

Bacaan: Yesaya 63

Nats Alkitab: 

“Aku mau menyebut-nyebut kasih setia TUHAN, perbuatan-perbuatan masyhur TUHAN, sesuai dengan segala yang diberikan TUHAN kepada kita, dan kebaikan besar kepada kaum Israel sesuai dengan belas kasihan-Nya dan menurut banyaknya kasih setia-Nya. Sebab Ia berkata: ‘Sungguh, mereka adalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang’; maka Ia menjadi Juruselamat mereka. Dalam segala kesesakan mereka, Ia pun tertindas, dan malaikat dari hadirat-Nya menyelamatkan mereka. Dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya Ia menebus mereka, Ia mengangkat dan menggendong mereka sepanjang zaman dahulu.” - Yesaya 63:7–9


Di tengah dunia yang sering kali meragukan cinta Tuhan—terutama saat hidup terasa berat atau ketika kita sendiri jatuh dalam dosa—Allah tetap memilih untuk mengingat kasih setia-Nya. Bukan karena layak, tetapi karena Ia adalah Allah yang penuh belas kasihan.

Perhatikan bagaimana nabi Yesaya tidak langsung menyoroti dosa umat, melainkan mengingat kembali kemurahan Tuhan di masa lalu. Ini adalah latihan rohani yang penting: mengingat siapa Allah telah menjadi bagi kita, bukan hanya apa yang sedang kita alami hari ini.

Yang sangat mengharukan adalah ayat 9: “Dalam segala kesesakan mereka, Ia pun tertindas.” Allah bukan sekadar penonton yang jauh. Ia ikut menderita bersama umat-Nya. Dan lebih dari itu—Ia datang sebagai Juruselamat, bukan hakim yang murka. Ia mengangkat dan menggendong umat-Nya seperti seorang ayah membawa anaknya yang lelah.

Ini adalah gambaran awal dari kasih Kristus yang kelak nyata di kayu salib—di mana Allah tidak hanya melihat penderitaan kita, tetapi masuk ke dalamnya, lalu membebaskan kita.

Kita mungkin sering gagal. Kita mungkin sering lupa. Tetapi kasih setia-Nya tidak pernah habis. Ia tetap berkata: “Mereka adalah umat-Ku.”

❓ 5 Pertanyaan Refleksi untuk Diskusi Komsel

  1. Apa momen dalam hidupmu ketika kamu merasa Tuhan benar-benar “ikut menderita” bersamamu?
  2. Mengapa penting untuk mengingat kembali kasih setia Tuhan saat iman kita goyah?
  3. Bagaimana pengertian bahwa “Allah tertindas dalam kesesakan kita” mengubah cara kita memandang penderitaan?
  4. Apakah ada area dalam hidupmu saat ini di mana kamu sulit percaya bahwa Tuhan masih menyebutmu “umat-Nya”?
  5. Bagaimana kita bisa menjadi saluran kasih setia Tuhan bagi orang lain yang sedang dalam kesesakan?

🙏 Doa Penutup

Ya Bapa yang penuh kasih setia, terima kasih karena Engkau tidak pernah melepaskan kami, meski kami sering meninggalkan-Mu. 

Ingatkan kami selalu: bahwa dalam setiap air mata, dalam setiap pergumulan, Engkau ikut tertindas—dan Engkau datang menyelamatkan.

Bentuklah hati kami agar seperti-Mu: penuh belas kasihan, sabar, dan setia.

Dalam nama Yesus, Juruselamat kami,

Amin.


Masuk untuk meninggalkan komentar