Ayat Alkitab Pilihan (Nats):
"Ketika Aku berjalan melintasimu dan melihat engkau terbaring di dalam darahmu, Aku berkata kepadamu: 'Hiduplah!' di dalam darahmu itu, dan Aku berkata kepadamu: 'Hiduplah!'" (Yehezkiel 16:6)
Sahabat terkasih, bayangkan seorang bayi yang baru lahir, dibuang ke ladang terbuka, tanpa pakaian, bermandikan darah, dan tidak ada seorangpun yang menginginkannya. Dia membusuk, tidak berdaya, dan menunggu ajal. Itulah gambaran tepat tentang kita sebelum kasih Tuhan menemukan kita. Kita bukan hanya berdosa, tetapi kita "mati" dalam perbuatan dosa kita, tidak punya harapan, dan tanpa Allah di dalam dunia ini (Efesus 2:12).
Namun, Yehezkiel 16:6 mencatat momen ketika "Allah berjalan melintas". Dia tidak menolehkan muka dengan jijik. Dia tidak menuntut agar kita membersihkan diri terlebih dahulu. Di tengah keterpurukan yang paling menjijikkan sekalipun, Dia datang dan berkata, "Hiduplah!"
Inilah definisi kasih karunia. Allah tidak memilih kita karena kita layak, melainkan Ia membuat kita layak. Ia mencuci kita, menyembuhkan kita, menaikkan kita, dan menghiasi kita seperti mempelai (ayat 10-13). Masalahnya seringkali bukan pada kasih Tuhan, melainkan pada ingatan kita. Seringkali setelah kita menjadi kuat, berhasil, dan dipakai Tuhan, kita lupa daratan—seperti Yerusalem yang sombong dan mempercayai kecantikannya sendiri (ayat 15).
Hari ini, mari kita renungkan kembali momen ketika Tuhan pertama kali menemukan kita. Jangan biarkan keberhasilan atau kenyamanan membuat kita lupa siapa yang telah memulihkan hidup kita. Apakah hari ini Anda sedang merasa terbuang? Dengarkanlah suara-Nya yang lembut berkata, "Hiduplah!" Ataukah Anda sedang berada di puncak kehidupan? Jangan lupa bahwa semua hiasan yang Anda miliki adalah pemberian-Nya. Kita hidup bukan karena kehebatan kita, tapi karena Dia berfirman, "Hiduplah!"
PERTANYAAN DISKUSI KELOMPOK SEL
- Dalam ayat 6, Allah berkata "Hiduplah!" kepada bayi yang terbuang. Menurut Anda, mengapa Allah memilih untuk terlibat dengan orang-orang yang "tidak layak" dan terbuang seperti kita?
- Renungan ini menyebutkan bahwa seringkali kita lupa akan darimana asal kita setelah diberkati. Bagaimana ciri-ciri sikap "lupa daratan" atau keangkuhan rohani dalam kehidupan seorang Kristen masa kini?
- Apa sajakah "berhala-berhala" modern (seperti karir, harta, popularitas, atau hubungan) yang sering kali menggantikan posisi Allah sebagai kekasih utama kita, sehingga kita berlaku serupa seperti Yerusalem yang berzinah?
- Jika dipikirkan tentang kasih Allah yang tidak bersyarat, apakah ada rasa tidak pantas yang Anda rasakan sehingga sulit menerima bahwa Allah begitu mengasihi Anda?
- Apa satu langkah nyata (tindakan syukur atau pertobatan) yang bisa kita ambil minggu ini sebagai tanggapan atas kasih-Nya yang telah memulihkan hidup kita?
DOA PENUTUP
Bapa yang Mahakudus dan penuh kasih setia,
Kami datang ke hadirat-Mu dengan hati yang tersentuh oleh Firman-Mu. Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak membiarkan kami mati di dalam dosa dan kebingungan kami. Terima kasih karena saat semua orang menolak, Engkau datang dan berkata, "Hiduplah!"
Mohon ampunkan kami jika kami sering melupakan kasih-Mu, menjadi sombong saat diberkati, dan menjauh dari-Mu untuk mengejar hal-hal duniawi. Bawa kami kembali ke tempat di mana kami pertama kali mengenal kasih-Mu. Bantu kami untuk hidup bagi-Mu bukan karena kewajiban, tapi karena respons kasih yang tulus. Pakailah hidup kami untuk menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kami yang masih terbuang dan merasa tidak berdaya.
Dalam nama Yesus Kristus, Juruselamat dan Kekasih Jiwa kami, kami berdoa. Amin.
Dari Ditinggalkan Menjadi Dihiasi