KUASA YANG MENGALIR DARI KEHIDUPAN YANG DIPERSATUKAN

Bacaan: Kisah Para Rasul 5:12-16

Nats Alkitab: 

"Dan oleh tangan rasul-rasul terjadilah banyak tanda dan mujizat di antara bangsa itu. Dan mereka bertemu semua dengan sepakat di Serambi Salomo. ... Sehingga mereka membawa orang-orang sakit ke jalan-jalan dan menaruh mereka di tempat tidur dan tilam, supaya, kalau Petrus lewat, bayangnya saja jatuh pada salah seorang dari mereka. Maka banyak orang dari kota-kota di sekitar Yerusalem berkumpul juga di situ, membawa along orang-orang yang sakit dan yang diganggu roh jahat, dan mereka semua disembuhkan." (Kisah Para Rasul 5:12, 15-16)

Di tengah dunia yang penuh ketakutan, ketidakpastian, dan kelemahan, jemaat mula-mula bukan hanya bertahan—mereka bersinar. Bukan karena kehebatan mereka, melainkan karena kehadiran Allah yang nyata di tengah persekutuan mereka.

Perhatikan: kuasa Allah tidak turun secara acak. Ia mengalir melalui komunitas yang “sehati” (ay. 12). Mereka hidup dalam kesatuan rohani, transparansi, dan ketergantungan mutlak pada Kristus. Di sanalah tanda-tanda ajaib terjadi—bukan untuk pamer, tetapi sebagai undangan bagi dunia yang terluka untuk datang kepada Sang Sumber Kesembuhan.

Yang menarik, orang-orang bahkan berharap bayangan Petrus menyentuh mereka. Ini bukan tentang mistisisme, melainkan kerinduan mendalam akan kehadiran ilahi. Mereka percaya: di mana para rasul berada, di situ Allah bekerja. Dan Allah memang bekerja—bukan hanya menyembuhkan tubuh, tetapi membebaskan jiwa dari belenggu roh jahat.

Gereja hari ini mungkin tidak lagi dinaungi bayangan Petrus, tetapi kita masih memiliki sesuatu yang lebih besar: Roh Kudus yang tinggal di dalam tubuh Kristus—yaitu jemaat-Nya. Ketika kita hidup dalam kesatuan, doa, dan ketaatan, kuasa Allah tetap mengalir—melalui kasih yang nyata, kebenaran yang teguh, dan pelayanan yang rendah hati.

Jangan meremehkan kehidupan persekutuan yang sederhana. Di sanalah Allah sering kali memilih untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Pertanyaan Refleksi untuk Diskusi
  1. Apa yang membuat jemaat mula-mula begitu berkuasa dalam pelayanan mereka? Bagaimana hal itu bisa menjadi cermin bagi komsel kita hari ini?
  2. Dalam ayat 13 dikatakan “tidak seorang pun dari orang lain berani bergabung dengan mereka.” Menurutmu, apa yang membuat orang luar merasa takut atau segan? Apakah hal serupa terjadi pada gereja masa kini—baik dalam arti positif maupun negatif?
  3. Orang-orang membawa yang sakit hanya agar “bayangan Petrus” menyentuh mereka. Apa bentuk “kerinduan akan kehadiran Allah” yang kamu lihat di sekitarmu saat ini?
  4. Bagaimana kita bisa menciptakan lingkungan komsel yang menjadi “tempat di mana Allah nyata bekerja”—seperti Serambi Salomo dahulu?
  5. Apakah ada area dalam hidupmu yang perlu “dibawa keluar” (seperti orang sakit dibawa ke jalan) untuk disembuhkan oleh iman komunitas? Apa yang menghalangimu?
Doa Penutup

Ya Bapa yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau tidak meninggalkan kami sendirian.
Di tengah dunia yang retak, jadikanlah komsel kami seperti Serambi Salomo—tempat di mana kuasa-Mu nyata, kasih-Mu mengalir, dan orang-orang datang mencari Engkau.

Bersihkan kami dari kepura-puraan.
Satukan hati kami dalam satu roh dan satu tujuan: memuliakan nama Yesus.
Dan jika ada yang sakit—baik tubuh, pikiran, maupun jiwa— sentuhlah mereka dengan bayangan kasih karunia-Mu yang menyembuhkan.

Dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami,

Amin.


Masuk untuk meninggalkan komentar