Yehezkiel 35:5 (TB)
"Oleh karena dalam hatimu terpendam permusuhan yang turun-temurun dan engkau membiarkan orang Israel mati oleh pedang pada masa malapetaka mereka, pada saat kesudahan kedurjanaan mereka,"
Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus, jika kita melihat latar belakang dari Yehezkiel 35, kita sedang membaca sebuah pesan Tuhan yang sangat tegas untuk pegunungan Seir, yang merupakan tempat tinggal bangsa Edom. Bangsa Edom ini sebenarnya bukanlah orang asing bagi Israel. Mereka adalah keturunan Esau, kakak dari Yakub. Dengan kata lain, mereka adalah saudara sedarah. Namun, apa yang terjadi? Selama ratusan tahun, keluarga ini merawat sebuah penyakit hati yang sangat mematikan: dendam.
Tuhan sangat menegur Edom karena ketika Israel sedang jatuh, menderita, dan diserang oleh bangsa lain, Edom malah bertepuk tangan. Mereka bersukacita di atas penderitaan saudaranya sendiri. Mereka bahkan ikut mengambil keuntungan dari kejatuhan Israel. Tuhan mendengar setiap perkataan sombong yang diucapkan oleh Edom dan melihat bagaimana permusuhan itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mungkin hari ini kita tidak sedang berperang melawan bangsa lain, tetapi mari kita jujur pada diri sendiri. Seberapa sering kita memelihara rasa sakit hati di dalam keluarga kita? Mungkin ada saudara yang pernah menyakiti kita, orang tua yang pernah bersikap tidak adil, atau pasangan yang mengecewakan. Menyimpan dendam itu ibarat meminum racun tetapi berharap orang lain yang mati. Dendam yang dibiarkan hanya akan membusukkan kedamaian di dalam rumah tangga kita.
Kisah Edom menjadi peringatan keras bagi kita bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap hati yang penuh kebencian. Tuhan rindu keluarga kita menjadi tempat di mana kasih karunia dan pengampunan dipraktikkan setiap hari. Melepaskan pengampunan memang tidak mudah, dan terkadang butuh waktu, tetapi itu adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai kebencian. Mari kita serahkan segala rasa sakit hati kita kepada Yesus, Sang Raja Damai, agar Dia membasuh luka kita dan memampukan kita untuk mengampuni, sama seperti Dia telah lebih dulu mengampuni dosa-dosa kita.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel:
Apakah kamu pernah merasa diam-diam senang atau puas saat melihat orang yang pernah menyakitimu mengalami kesulitan?
Firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan mendengar setiap perkataan kita, termasuk saat kita menjelek-jelekkan orang lain. Bagaimana hal ini seharusnya mengubah cara kita berbicara sehari-hari?
Bangsa Edom menyimpan dendam "turun-temurun". Menurut kamu, apa bahayanya jika sebuah keluarga mewariskan kemarahan atau kebencian kepada anak-cucu mereka?
Apa hal yang paling membuat kita sulit untuk melepaskan pengampunan kepada seseorang yang sangat dekat dengan kita?
Sebagai pengikut Kristus, apa satu langkah praktis yang bisa kamu lakukan di minggu ini untuk mulai berdamai dengan masa lalu atau dengan seseorang yang pernah melukaimu?
Doa Penutup:
Tuhan Yesus yang baik, kami berterima kasih untuk teguran dan firman-Mu hari ini melalui kitab Yehezkiel. Ampuni kami, Tuhan, jika selama ini ada akar pahit, dendam, atau rasa sakit hati yang masih kami simpan rapat-rapat, terutama terhadap keluarga atau rekan kami sendiri. Kami sadar bahwa kebencian tidak akan menghasilkan apa-apa selain kehancuran. Tolong lembutkan hati kami. Berikan kami kekuatan ekstra dari Roh Kudus untuk bisa melepaskan pengampunan yang tulus. Biarlah keluarga dan komunitas kami dipenuhi oleh kasih-Mu, bukan oleh pertikaian. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan bersyukur. Amin.