Skip to Content

1605–2026

Dari Gereja Kolonial menjadi Gereja Nusantara

Lebih dari empat abad perjalanan iman, transformasi kelembagaan, dan panggilan pelayanan Gereja Protestan di Indonesia.

1605

Awal perjalanan

421

Tahun berakar

12

Gereja Bagian Mandiri

Latar belakang

Gereja negara yang bertransformasi

Sejarah GPI berakar pada masa kolonial Belanda. Setelah VOC dibubarkan, perubahan politik dan kebijakan gereja melahirkan Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie atau Indische Kerk pada abad ke-19.

Sebagai gereja negara, urusan administratif, finansial, penempatan pendeta, hingga keputusan teologis berada di bawah pengawasan pemerintah. Memasuki abad ke-20, pertumbuhan jemaat, luasnya wilayah pelayanan, dan kesadaran kebangsaan menuntut bentuk gereja yang lebih kontekstual.

Gereja Nusantara

Mandiri dalam konteks, satu dalam persekutuan

Perjalanan menuju Gereja Nusantara

Sidang Besar tahun 1933 membuka jalan bagi pembentukan gereja-gereja mandiri berbasis wilayah, budaya, dan kebutuhan pastoral. GMIM, GPM, dan GMIT menjadi tonggak awal proses tersebut.

Sesudah kemerdekaan, nama Indische Kerk diindonesiakan menjadi Gereja Protestan di Indonesia. Sinode Am GPI hadir sebagai persekutuan yang memelihara keesaan, pembelajaran bersama, dan panggilan menghadirkan kehidupan.

Linimasa sejarah

Empat abad iman, persaudaraan, dan pelayanan

Peristiwa-peristiwa penting yang membentuk GPI dan persekutuan Gereja Bagian Mandiri.

Ibadah pertama di Benteng Victoria

27 Feb 1605

Ibadah pertama di Benteng Victoria

Ibadah pertama de Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie dilaksanakan di Ambon, Maluku.

Pusat pelayanan beralih ke Batavia

30 Mei 1619

Pusat pelayanan beralih ke Batavia

Seiring perpindahan pusat pemerintahan Hindia Belanda, kantor pusat gereja juga beralih ke Batavia.

Gagasan pembagian wilayah kerja

1927

Gagasan pembagian wilayah kerja

Luasnya wilayah dan kebutuhan pelayanan mendorong gagasan agar wilayah-wilayah dapat dilayani lebih efektif.

KGPM berdiri

29 Okt 1933

KGPM berdiri

Kerapatan Gereja Protestan Minahasa berdiri sebagai gereja mandiri tanpa intervensi pemerintah kolonial.

Kesepakatan Gereja Bagian Mandiri

1933

Kesepakatan Gereja Bagian Mandiri

Rapat Besar memberi kebebasan kepada jemaat Minahasa, Maluku, dan Timor untuk menjadi GBM dalam persekutuan penuh.

GMIM berdiri

30 Sep 1934

GMIM berdiri

Gereja Masehi Injili di Minahasa dideklarasikan sebagai Gereja Bagian Mandiri.

GPM berdiri

6 Sep 1935

GPM berdiri

Gereja Protestan Maluku diproklamasikan di Ambon dan mengakar pada identitas masyarakat Maluku.

GMIT berdiri

31 Okt 1947

GMIT berdiri

Gereja Masehi Injili di Timor berdiri mandiri dan melayani wilayah Nusa Tenggara Timur.

GPIB berdiri

31 Okt 1948

GPIB berdiri

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat lahir dengan wilayah pelayanan luas dan multietnis.

GPID berdiri

4 Apr 1965

GPID berdiri

Gereja Protestan Indonesia Donggala dimandirikan dari pelayanan GMIM.

GPIBT berdiri

18 Apr 1965

GPIBT berdiri

Gereja Protestan Indonesia di Buol Tolitoli dimandirikan dari pelayanan GMIM.

GPIG berdiri

18 Jul 1965

GPIG berdiri

Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo dimandirikan dari pelayanan GMIM.

GKLB berdiri

27 Jan 1966

GKLB berdiri

Gereja Kristen di Luwuk Banggai berdiri dan bertumbuh dalam konteks Luwuk Banggai.

GPI Papua berdiri

25 Mei 1985

GPI Papua berdiri

Gereja Protestan Indonesia di Papua dimandirikan dari pelayanan GPM.

IECC bergabung

17 Jun 1998

IECC bergabung

Indonesian Evangelical Christian Church menjadi bagian dari GBM GPI.

GERMITA bergabung

12 Okt 2002

GERMITA bergabung

Gereja Masehi Injili Talaud menjadi bagian dari GBM GPI.

Persekutuan

Dari Gereja Kolonial menjadi Gereja Nusantara.