Jakarta, 19 Agustus 2026
Kepada yang terkasih,
Segenap Warga Jemaat, Majelis Jemaat, dan Umat yang Dikasihi Tuhan di seluruh lingkup pelayanan Sinode Am GPI,
Salam Persaudaraan dalam kasih dan damai sejahtera dari Tuhan Yesus Kristus!
Kami menyampaikan surat ini dengan empati yang mendalam di tengah pergumulan Saudara-saudara yang mengalami bencana gempa bumi di Flores; yang kami imbau pula agar umat Tuhan terus mendukung dalam doa dan diakonia untuk pemulihannya secara holistik.
Kami juga tergerak di tengah hiruk pikuk pergumulan politik dan ekonomi di Nusantara, ada yang sempat terluput dari perhatian banyak pihak, termasuk gereja. Kita perlu menyadari bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kalimantan dalam beberapa pekan terakhir. Ribuan hektare lahan gambut dan hutan telah musnah, kabut asap menyelimuti banyak wilayah hingga menembus batas negara, satwa liar kehilangan habitatnya, dan saudara-saudara kita—termasuk anak-anak dan lansia—harus menanggung dampak kesehatan yang serius. Kami turut prihatin bahwa ada dugaan unsur kesengajaan dalam sebagian pembakaran ini, meski hal tersebut masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang dan belum menjadi kepastian hukum. Kita perlu berhati-hati agar tidak tergesa menuduh, namun juga tidak boleh diam terhadap pola kerusakan lingkungan yang terus berulang dan mengancam keutuhan ciptaan Tuhan.
Firman Tuhan dalam Kejadian 2:15 menegaskan bahwa mandat manusia atas ciptaan bukanlah mandat untuk menguasai dan mengeksploitasi, melainkan mandat rangkap: mengusahakan (bekerja, memanfaatkan) sekaligus memelihara (menjaga, melindungi). Ketika hutan dibakar demi keuntungan sesaat, tanpa mempertimbangkan keberlangsungan hidup bersama, kita telah mengkhianati mandat suci ini. Keadilan sosial-ekologis bukan sekadar isu lingkungan, melainkan bagian dari panggilan iman untuk memelihara keutuhan ciptaan Tuhan.
Seruan kepada Gereja
Gereja dipanggil menjadi alat-Nya, menegaskan suara kenabian yang berpihak pada keadilan tanpa kehilangan kasih. Kami mengajak jemaat untuk: (1) menjadikan keprihatinan ekologis bagian tetap dari doa syafaat dan liturgi ibadah; (2) mengedukasi umat tentang teologi sosio-ekologi dan tanggung jawab menjaga ciptaan; (3) menggalang solidaritas dan bantuan kemanusiaan bagi korban terdampak asap, terutama anak-anak dan kelompok rentan; serta (4) mendorong gaya hidup jemaat yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Seruan kepada Masyarakat
Kami mengajak seluruh masyarakat, khususnya di Kalimantan, untuk menolak praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, betapapun praktisnya cara tersebut secara ekonomi. Mari bersama membangun kesadaran kolektif bahwa tanah dan hutan adalah warisan bersama lintas generasi, bukan milik sesaat untuk dieksploitasi. Masyarakat juga kami dorong untuk aktif melapor secara bertanggung jawab jika menemukan indikasi pembakaran yang disengaja, tanpa main hakim sendiri.
Seruan kepada Pemerintah
Kami mendesak pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk: (1) menuntaskan penyelidikan dugaan unsur kesengajaan secara transparan dan berkeadilan, tanpa pandang bulu terhadap pelaku korporasi maupun perorangan; (2) memperkuat pengawasan tata kelola perizinan lahan gambut dan perkebunan; (3) memastikan anggaran penanggulangan bencana karhutla memadai dan tidak dipangkas di tengah eskalasi krisis; serta (4) memberikan perlindungan kesehatan dan pemulihan bagi warga terdampak asap.
Harapan dan Tanggung Jawab
Keutuhan ciptaan adalah tanggung jawab bersama—gereja, masyarakat, dan pemerintah—yang tidak bisa dipikul sendiri-sendiri. Marilah kita berjalan bersama mewujudkan keadilan sosial-ekologis, sebagai wujud nyata iman yang memelihara bumi sebagai rumah bersama pemberian Tuhan. Kiranya Tuhan memberi hikmat dan kekuatan bagi kita semua.
Teriring salam dan doa,
Badan Pelaksana Harian Majelis Sinode AM Gereja Protestan di Indonesia
Pdt. DR. Ebenhaizer Nuban Timo Pdt. Henrek Lokra, M.Si
Ketua Umum Sekretaris Umum